Selamat Datang di Chanel Pendamping Desa Tanah Jambo Aye
Kunlap
BUMDes
Monev DD
Musrenbangdes

Pendamping Desa dan Ketahanan Pangan Desa

 

Oleh: Taufik Ishak
Pendamping Lokal Desa di Aceh Utara

Ketahanan pangan di desa seringkali terdengar indah dalam perencanaan, namun di lapangan ia tumbuh pelan—di antara sawah yang menunggu air dan ladang yang bergantung pada cuaca. Di banyak tempat, semangat kemandirian pangan masih harus berhadapan dengan kenyataan: pupuk yang sulit diperoleh, harga gabah yang tidak stabil, dan lahan pertanian yang semakin menyempit.

Namun di balik semua itu, ada upaya senyap yang terus berjalan. Di Desa Matang Jurong, misalnya, warga mulai menanam kembali, memelihara ternak, dan menata ulang cara berpikir tentang pangan. Suatu siang kami duduk di sawah yang padinya sedang dara, berdiskusi dengan petani tentang pakan ternak dan pengolahan hasil panen. Seorang petani berkata, “Kalau rumput tak ditanam, sapi bisa kurus sebelum bantuan datang.” Kalimat sederhana itu menggambarkan semangat mereka untuk tidak bergantung, tetapi berusaha semampunya.

Kini, Desa Matang Jurong telah memiliki lahan sekitar dua hektare yang dikelola untuk program ketahanan pangan sejak dana desa mulai digulirkan. Lahan ini digilir setiap musim tanam untuk setiap kepala keluarga (KK), agar semua warga dapat merasakan manfaatnya secara adil. Pola seperti ini menumbuhkan kebersamaan dan rasa memiliki terhadap lahan desa. Bahkan, satu hingga dua tahun ke depan, lahan sawah ini akan terus bertambah, dan pengelolaannya akan dilakukan oleh BUMG Ingin Maju, agar program ketahanan pangan berjalan lebih terarah dan berkelanjutan.

Pendamping Desa hadir di tengah proses ini—tidak sebagai pengarah, melainkan sebagai penggerak bersama. Kami berkoordinasi dengan petani, aparat gampong, dan kelompok tani untuk mencari solusi terbaik di lapangan. Kadang pembahasan berlangsung di pematang sawah, kadang di balai desa, ditemani secangkir kopi dan semangat yang sama: bagaimana caranya agar desa benar-benar berdaulat dalam hal pangan.

Pemerintah telah memberikan dukungan besar melalui kebijakan dan dana desa. Namun keberhasilan program tetap bergantung pada partisipasi dan kemauan masyarakat. Yang paling penting bukan hanya anggaran, tetapi kesadaran bahwa ketahanan pangan adalah tanggung jawab bersama—antara pemerintah, pendamping, dan warga.

Banyak contoh baik yang kini mulai tampak. Di Matang Jurong, kelompok tani mengolah pakan ternak sendiri, sementara ibu-ibu rumah tangga menanam sayur di halaman dan menjual hasilnya di warung setempat. Langkah-langkah kecil ini menunjukkan bahwa kemandirian pangan bisa dimulai dari hal sederhana, asalkan ada kemauan dan kebersamaan.

Ketahanan pangan bukan sekadar program, melainkan perjalanan panjang menuju kemandirian desa. Ia tumbuh dari kerja sama, dari gotong royong, dan dari keyakinan bahwa desa mampu berdiri di atas kekuatannya sendiri.

Harapan itu lahir dari percakapan di pinggir sawah, dari kerja keras petani, dan dari kepedulian semua pihak. Selama masih ada tangan yang mau menanam dan hati yang mau berbagi, selama itu pula ketahanan pangan akan hidup—pelan, tapi pasti.

Catat Ulasan for "Pendamping Desa dan Ketahanan Pangan Desa "