Selamat Datang di Chanel Pendamping Desa Tanah Jambo Aye
Kunlap
BUMDes
Monev DD
Musrenbangdes

KAMI TIDAK PUNYA BAHTERA


Malam itu adalah malam ke-13 hujan tanpa henti.
Aku tidur sendiri. Ibu sudah lama tiada. Ayah… pulang ke rumahnya yang baru.
Rumah terasa lebih sunyi dari biasanya. Tidak ada suara, tidak ada tanya, tidak ada yang memastikan aku baik-baik saja.
Hanya aku… dan hujan yang tak kunjung reda.
Saat itu pukul dua dini hari, malam Kamis.
Tiba-tiba dari luar terdengar teriakan berulang-ulang—
“Air naik! Air naik! Ayo ke meunasah!”

Aku terbangun dengan jantung berdegup kencang. Tidak tahu apa yang sedang terjadi. Suara itu seperti datang dari segala arah, bercampur dengan gemuruh air dan langkah kaki yang tergesa.
Dengan setengah sadar aku turun dari tempat tidur.

Dingin.
Air sudah setinggi lutut, mengalir deras di dalam rumah.

Aku tertegun beberapa detik. Otakku seperti belum siap menerima kenyataan bahwa banjir sudah masuk tanpa permisi.
“Ibu…” lirihku refleks.
Tapi tak ada jawaban.

Di luar, gelap masih pekat. Listrik sudah mati. Yang terlihat hanya cahaya senter yang bergerak ke sana kemari—orang-orang berlari, sebagian berteriak, sebagian lagi memanggil nama anggota keluarganya.
“Ayo ke meunasah! Cepat!”

Aku membuka pintu. Arus air langsung menerobos masuk lebih kuat.
Tak pikir lama, aku memanggil kakak di rumah samping.
“Kak! Air naik!”
Ternyata mereka juga baru bangun. Wajah panik, tangan sibuk meraih apa saja yang bisa dibawa.
Kami sama-sama tahu—ini bukan banjir biasa.

Aku sempat teringat sesuatu. Ijazah.
Dokumen itu tiba-tiba terasa sangat penting di tengah kekacauan. Aku kembali masuk ke dalam rumah, meraba-raba dalam gelap, mencoba mencarinya di antara barang-barang yang mulai terendam.

Air naik cepat.
Dari lutut… ke paha… lalu ke pinggang.

Tanganku gemetar. Aku membuka lemari, membongkar laci, menjatuhkan apa saja yang ada di dalamnya.
“Ijazah… di mana…” gumamku panik.
Tapi ia tak juga kutemukan.

Air terus naik. Waktu tidak lagi berpihak.
Aku berhenti.

Untuk pertama kalinya, aku harus memilih—menyelamatkan kenangan, atau menyelamatkan diri.

Aku menunduk sebentar, lalu berbalik.
Aku menyerah.

Dengan langkah berat, aku keluar dari rumah saat air sudah sepinggang. Dingin dan arusnya menghantam tubuhku, seolah ingin menjatuhkan.
Dan di saat itu juga, aku sadar—tidak semua hal bisa kita selamatkan.

Aku bahkan tidak sempat mengambil apa pun. Handphone androidku tertinggal di dalam rumah.
Tidak ada yang bisa kudokumentasikan malam itu.
Tidak ada foto, tidak ada video.
Hanya ingatan… yang mungkin akan terus tinggal.

Aku tidak mengambil arah ke meunasah. Terlalu jauh. Dalam kondisi seperti ini, aku tidak yakin bisa sampai.
Aku memilih berlari ke arah kanan—ke simpang antara desaku dan Desa Matang Raya.
Aku bahkan tidak sempat mengambil sepeda motor.
Aku hanya berlari.

Air terus naik. Arus semakin kuat. Nafasku memburu, kaki terasa berat, tapi aku terus memaksa diri untuk bergerak.
Setiap langkah seperti melawan sesuatu yang tidak terlihat—sesuatu yang ingin menjatuhkanku.

Saat sampai di simpang itu, aku berhenti.
Aku tak sanggup lagi.
Air sudah terlalu deras untuk dilawan. Tubuhku mulai goyah. Nafasku sesak.

Aku menoleh ke kanan.
Gelap.

Lalu terdengar suara—
“Hai! Nyak! Kesini! Cepat ke sini!”

Suara seorang ibu. Suara yang terasa familiar.
Aku berusaha mendekat, melawan arus yang semakin liar. Setiap langkah terasa seperti pertaruhan antara jatuh atau bertahan.

Saat aku sampai, aku melihatnya.
Ia berdiri di atas ring balok rumah yang belum selesai dibangun.
“Naik sini!” katanya sambil mengulurkan tangan.

Aku menggenggam tangannya.
Kuat. Hangat.
Dan untuk pertama kalinya malam itu, aku merasa… tidak sendiri.

Aku berhasil naik.
Tubuhku langsung lemas. Pinggangku nyeri, seperti ada sesuatu yang menoreh sejak tadi.
Aku terduduk di atas beton yang dingin.

Saat itu aku tak tahu harus mengadu ke mana.

Ibu di sampingku—yang tadi menarik tanganku—terus-terusan menangis.
Tangisnya pecah, tidak tertahan.

“Anak saya… anak saya tadi lepas…” katanya terbata-bata.

Aku terdiam.

Ia terus menyebut nama anaknya, berulang-ulang, seperti berharap air akan mengembalikannya.

Hujan masih turun.
Air masih mengalir.

Dan di atas ring balok itu, aku melihat—
bukan hanya rumah yang hanyut,
tapi juga harapan seorang ibu.

Aku ingin berkata sesuatu.
Tapi tidak ada kata yang cukup.

Aku hanya bisa diam.
Mendengar tangisnya yang bercampur dengan suara hujan.

---

Malam perlahan bergeser menuju pagi.
Cahaya remang mulai muncul, memperlihatkan kenyataan yang sejak tadi hanya terasa—kini benar-benar terlihat.

Sejauh mata memandang… air.
Air berwarna coklat.
Rumah-rumah tenggelam sebagian. Jalan hilang tanpa jejak. Desa yang biasanya hidup kini seperti ditelan diam.

Aku menatap kosong.
“Apakah ini akan surut…?” gumamku dalam hati.
Jika tidak… aku harus bagaimana?
Tidak ada jawaban.

Di tengah dingin dan gemetar, aku teringat sebuah kisah lama.
Tentang Nabi Nuh.
Tentang air yang naik tanpa henti.
Tentang manusia yang tidak siap.
Tentang mereka yang hanya bisa bertahan dengan apa yang ada.

Bedanya…
Nabi Nuh punya bahtera.
Sedangkan kami… hanya punya ring balok yang belum selesai.

Namun di saat itulah aku sadar—
kami memang tidak punya bahtera.
Tapi kami punya tangan yang saling menggapai, suara yang saling memanggil, dan hati

Catat Ulasan for "KAMI TIDAK PUNYA BAHTERA"